Semen Indonesia Raih Indonesia GCG Award 2017

Semen Indonesia memperoleh penghargaan Indonesia GCG Award (IGCGA) 2017 di kategori BUMN Tbk dengan nilai 92,96 (platinum). Penghargaan Indonesia GCG Award 2017 diberikan kepada perusahaan terbaik di bidang GCG di Indonesia dari sekitar 500 perusahaan yang diseleksi dewan juri.

Tahun ini, Indonesia GCG Award 2017 digelar untuk tahun ketiga oleh Majalah Economic Review bekerjasama dengan IPMI International Business School, Sinergi Daya Prima, Indonesia Asia Institute, Ideku Group. Malam penganugerahan IGCGA III 2017 digelar pada Kamis (2/11) 2017 di Tiara Ballroom, Crown Plaza, Jakarta yang dihadiri jajaran direksi dan manajemen dari perusahaan pemenang.

Untuk kategori BUMN Tbk, 10 perusahaan dengan GCG terbaik berdasarkan penilaian dewan juri masing-masing secara berurutan adalah PT Antam (Persero) Tbk, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, PT Timah (Persero) Tbk, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT PGN (Persero) Tbk, PT Kimia Farma (Persero) Tbk, PT Bukit Asam (Persero) Tbk, dan PT Semen Baturaja (Persero) Tbk.

Direktur Utama Economic Review Irlisa Rachmadiana mengatakan, masih banyak perusahaan yang terpuruk karena tata kelola perusahaan tidak baik sehingga banyak fraud yang terjadi atau tidak ada investor yang mau membeli saham perusahaan tersebut. Oleh karena itu, penting bagi sebuah perusahaan untuk memiliki pengetahuan tentang good corporate governance (GCG) dalam menjalankan roda bisnisnya.

“Penerapan prinsip GCG akan membuat perusahaan di Indonesia makin kompetitif di ASEAN. Hal ini sesungguhnya masih menjadi tantangan, bagaimana memberikan edukasi kepada perusahaan untuk menerapkan sistem GCG yang baik. Oleh karena itu, kami mengapresiasi kepada beberapa perusahaan terbaik dalam hal penerapan prinsip GCG,” ujarnya.

Perusahaan peraih IGCGA III 2017, lanjut dia, merupakan perusahaan yang terbukti mumpuni bertahan dan tangguh dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat, serta dapat menerapkan etika bisnis, sehingga dapat mewujudkan iklim usaha yang sehat dan transparan. “Perusahaan-perusahaan inilah jawaranya,” ujarnya.

Adapun para pemenang IGCGA III 2017 berasal dari perusahaan swasta, Tbk, BUMN, BUMD, BPD, BPR, dan lainnya. Melalui penghargaan ini diharapkan perusahaan terpacu meningkatkan prestasi dan peran pentingnya dalam implementasi praktek GCG di perusahaan Indonesia.

Ketua Dewan Juri Herris B Simandjuntak menambahkan proses penjurian IGCGA III 2017 dilakuakn secara objektif, fair, oleh Dewan Juri Independen yang berkompeten serta independe di bidang GCG. Adapun indikator penilaian berdasarkan laporan keuangan audited 2016 (25 persen), laporan tahunan 2016 (40 persen), kelengkapan infrastruktur GCG (20 persen), kelengkapan soft-structure GCG (10 persen), dan keterbukaan atas masalah yang dihadapi perusahaan (5 persen).

Untuk kriteria laporan keuangan audited 2016 (25%), penjabarannya antara lain WTP oleh KAP berbobot 30 persen yang meliputi pernyataan oleh partner KAP yang menyatakan WTP, kinerja keuangan, pengungkapan transaksi related parties, pengungkapan permasalahan hukum yang berdampak keuangan, pemenuhan kewajiban pembayaran pajak. Selain itu, pernyataan dari dirut dan direktur keuangan berbobot 30 persen yang meliputi tanda tangan di atas materai dan ditandatangani oleh direksi. Kemudian, kriteria lain yakni ditayangkan dalam website berbobot 40 persen yang meliputi bagian dari laporan keuangan dan laporan keuangan terdahulu.

Menurut dia, jika perusahaan di Indonesia memiliki pengelolaan perusahaan yang baik, otomatis akan menarik minat investor. Kemudian, akan ada inflow investasi yang masuk ke Indonesia. Karena itu, pengelolaan yang baik pada perusahaan menjadi syarat yang tidak boleh terlewatkan. “Masih banyak hal-hal yang perlu diperhatikan oleh perusahaan yang masih belum menerapkan prinsip GCG yang benar di antaranya kelengkapan publikasi di website, tidak adanya pernyataan dari direktur utama dan direktur keuangan sebagai pertanggungjawaban atas laporan keuangan audited perusahaan, dan ada yang tidak menggunakan materai, bahkan ada laporan keuangan tahunan belum mengungkap lima tahun terakhir,” katanya.(dry)