Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan pabrik semen baru Tonasa V dan power plant 2 x 35 megawatt. Peresmiannya dilakukan di Desa Biring Ere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, Rabu (19/2).readmore...

Tambahan dari Tonasa V itu, membuat kapasitas produksi Semen Tonasa menjadi kisaran, tujuh juta ton per tahun atau meningkat lebih dari 40 persern. Pabrik Tonasa dibangun dengan investasi Rp 3,5 triliun dan sudah fire on pada bulan September tahun 2013. Pabrik Tonasa V dikerjakan secara swakelola melalui sinergi berbagai unit usaha di lingkungan Semen Indonesia.

Sedangkan power plant 2 x 35 MW dibangun dengan biaya USD 123 juta (atau sekitar Rp 1,3 triliun).  Pengoperasian power plant tersebut akan memberikan penghematan hingga 40% dibandingkan menggunakan listrik dari PLN, dan nilai penghematan akan semakin besar seiring kebijakan Pemerintah yang mengurangi subsidi tarif listrik. Dengan beroperasinya power plant BTG-2, maka total kapasitas pembangkit listrik mencapai 120 MW dan mampu memenuhi seluruh kebutuhan pabrik yang berkisar 105 MW.

Dalam pernyataannya, SBY menyatakan opitimismenya bahwa Indonesia akan menjadi pemain utama dalam industri semen di Asia. “Dengan semakin berkembangnya ekonomi, insfrastruktur, dan konektivitas, prospek industri semen semakin cerah. Apalagi sejak perusahaan semen di Indonesia, termasuk PT Semen Tonasa, disatukan ke dalam Semen Indonesia Group tahun lalu, Indonesia menjadi produsen semen terbesar di Asia Tenggara,” kata presiden dalam sambutannya. Presiden mengapresiasi pembangunan pabrik PT Semen Tonasa Unit V ini. “Insya Allah, yang sekarang kapasitasnya 3,5 juta ton per tahun akan menjadi 6 juta ton,” ujarnya.

Hadir dalam acara itu Menteri BUMN Dahlan Iskan, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo Dirut SMI Dwi Soetjipto, Direktur Utama PT Semen Tonasa Andi Unggul Attas , Direktur Utama PT Semen Padang Munadi, dan sejumlah pejabat BUMN, serta jajaran direksi di SMI.

Dirut SMI Dwi Soetjipto mengatakan, peresmian pabrik Tonasa V akan semakin memperkuat posisi perusahaan di industri semen nasional. Saat ini, perusahaan menguasai pangsa pasar sekitar 44 persen. “Ekspansi yang dilakukan Semen Tonasa membuat ekosistem bisnis perseroan semakin terbentuk kuat untuk menggaransi terciptanya pertumbuhan yang berkelanjutan. Penambahan kapasitas, memang menjadi isu sentral untuk menjawab kebutuhan pasar di masa kini dan masa depan yang terus meningkat,” ujarnya.

Tahun ini, total kapasitas produksi Semen Indonesia mencapai 31,8 juta ton dibandingkan tahun 2013 sebesar 30 juta ton, dengan adanya penambahan kapasitas melalui proyek upgrading. Perusahaan berharap adanya akselerasi kapasitas dengan ekspansi pabrik baru antara lain di Indarung VI Sumatra Barat, Rembang (Jawa Tengah), dan strategi peningkatan kapasitas dari pabrik yang telah beroperasi.

Sebagai holding dari PT Semen Padang, PT Semen Gresik, PT Semen Tonasa, dan Thang Long Cement Vietnam., SMI telah memiliki 22 cement mill, 22 packing plant, serta 11 pelabuhan khusus di Belawan, Teluk Bayur, Tuban, Gresik, Biringkasi, Dumai, Ciwandan, Banyuwangi, Sorong, dan dua pelabuhan di Vietnam. Perseroan juga memiliki 365 jaringan distributor yang tersebar di seluruh Indonesia.

Menurut Dwi, Semen Tonasa memegang peranan penting dalam upaya menjaga penguasaan pasar di wilayah Indonesia Timur. Wilayah pemasaran utama Semen Tonasa yang meliputi Sulawesi, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua menyumbang sekitar 23 persen dari total penjualan semen secara nasional.

Pada tahun lalu, di wilayah-wilayah tersebut, penjualan semen dari semua merek mencapai 13,1 juta ton. Secara nasional, penjualan semen mencapai 58 juta ton. SMI melalui Semen Tonasa, berhasil menguasai market share semen di Sulawesi sebesar 64 persen. Berkat koordinasi dan sinergi penjualan secara terpadu di lingkungan anak usaha antara Semen Tonasa dan Semen Gresik, SMI juga mampu menguasai pasar semen di wilayah lainnya di Indonesia Timur.

Di Nusa Tenggara, SMI menguasai pasar sebesar 41 persen, di Kalimantan sekitar 52 persen, dan di Papua serta Maluku sebesar 56 persen. ”Terlihat jelas bahwa sinergi di lingkungan SMI berjalan dengan baik, sehingga semua entitas yang ada bisa membentuk ekosistem bisnis yang kuat, yang menjadikan kami sebagai yang terdepan dan terbesar di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di Indonesia Timur dengan Semen Tonasa sebagai andalan,” jelas Dwi.

Kinerja perusahaan tumbuh diatas rata-rata industri semen nasional

Pada 2013, seiring dengan telah beroperasinya Tonasa Vi, maka Semen Tonasa berhasil membukukan penjualan sebesar 5,53 juta ton, meningkat pesat 20,7 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar 4,58 juta ton. Pertumbuhan penjualan Semen Tonasa jauh di atas pertumbuhan rata-rata industri semen yang sebesar 6,2 persen.

Semen Tonasa juga berhasil membukukan pertumbuhan penjualan ekspor yang fantastis sebesar 243,3 persen dari 73.108 ton pada 2012 jadi 250.971 ton pada 2013. Semen Indonesia berupaya menambah kapasitas untuk menjawab kebutuhan semen di kawasan Indonesia Timur yang dipastikan akan meningkat secara berkelanjutan. “Pada satu bulan pertama 2014 saja, penjualan semen di Sulawesi sudah mengalami pertumbuhan 21,5 persen dari 286.775 ton pada Januari 2013, jadi 348.548 ton pada Januari 2014” jelas Dwi.

Kinerja perusahaan secara keseluruhan ditahun 2013 sangat baik, ditengah pertumbuhan industri semen nasional yang turun dibandingkan tahun 2012. Sepanjang 2013, Perseroan berhasil membukukan pendapatan Rp24,5 triliun, tumbuh 25% dibanding tahun sebelumnya (Rp19,5 triliun). Total volume penjualan 27,81 juta ton, meningkat 27% dibanding 2012 (21,9 juta ton). Sementara volume penjualan semen domestik tercatat 25,4 juta ton atau meningkat 13,2%, jauh melampui kinerja industri dalam negeri yang tumbuh sebesar 5,5%. Dengan demikian pangsa pasar Perseroan meningkat menjadi 44% dibanding tahun 2012 yang tercatat sebesar 41%, sekaligus memperkokoh posisi Perseroan sebagai market leader di industri semen nasional

Kinerja Perseroan lainnya seperti EBITDA mencapai Rp8,1 triliun atau meningkat 17,9% dibanding 2012 (Rp6,8 triliun). EBITDA margin dapat dipertahankan di kisaran 33% dan net margin sebesar 22%. Hal ini menunjukkan konsistensi Perseroan dalam menciptakan profitabilitas yang optimal di tengah semakin ketatnya kompetisi dan kenaikan beban usaha.

Perusahaan semen terbesar di Asia Tenggara ini membukukan laba yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp5,37 triliun pada 2013, atau meningkat 10,8% dibanding periode 2012 (Rp4,84 triliun). Laba bersih per saham dasar meningkat dari Rp817 menjadi Rp905.

Pembangunan pabrik baru

Saat ini, perusahaan sedang proses pembangunan pabrik Rembang dengan kapasitas 3,0 juta/tahun dan pabrik Indarung VI Padang dengan kapasitas yang sama, yang diperkirakan dapat diselesaikan pada akhir tahun 2015, yang akan menambah kapasitas produksi sebesar 6 juta ton, sehingga di tahun 2016 dengan tambahan kapasitas dari program upgrading maka kapasita perusahaan diproyeksikan menjadi 39,3 juta ton atau terdapat penambahan kapasitas 9,3 juto ton dalam kurun waktu 3 tahun dibandingkan tahun 2013 yang memiliki kapasitas 30 juta ton.

Pada peresmian pabrik Tonasa V, Menteri BUMN, Dahlan Iskan, mendorong manajemen untuk mengkaji penghentian produksi pabrik Unit I dan II Semen Tonasa. Tetapi, penghentiannya ditunjang dengan pembangunan Pabrik Unit VI Semen Tonasa. Kajian perusahaan untuk menutup pabrik Tonasa I dan Tonasa II karena sudah tidak efisien dan menggantinya dengan Tonasa VI. Karena konsumsi listrik Tonasa I dan Tonasa II sekitar 2 kali lebih banyak dibandingkan Tonasa V. Melalui pabrik Tonasa VI maka akan diperoleh tambahan kapasitas sekaligus efisiensi dari konsumsi energi.