Pertama-tama atas nama Direksi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (“Perseroan”), kami mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan karunia-Nya sehingga Perseroan dapat melalui tahun 2013 yang penuh tantangan dengan menorehkan kinerja yang membanggakan. Pencapaian kinerja tersebut membuahkan berbagai penghargaan baik tingkat nasional maupun internasional, sehingga diharapkan menjadi pemicu semangat untuk meraih kinerja yang lebih baik lagi di tahun 2014.

Prestasi yang membanggakan tersebut menjadi tantangan bagi manajemen dan seluruh karyawan untuk berkarya, memberikan yang terbaik guna mencapai Visi Perseroan, serta terus memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional. Hal ini sesuai pesan yang disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada saat meresmikan pabrik Tonasa V dan Pembangkit Listrik di PT Semen Tonasa tanggal 19 Februari 2014.

Kondisi Perekonomian Dalam Negeri 2013

Kondisi perekonomian Indonesia pada tahun 2013 penuh dengan tantangan, masih dibayangi pelambatan pertumbuhan ekonomi global. Kawasan Eropa masih berupaya keras mengatasi krisis finansial, sementara China dan India masih mencatatkan pelambatan pertumbuhan ekonomi, sedangkan Jepang tengah berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui realisasi stimulus fiskal moneter. Namun demikian, kondisi perekonomian Amerika Serikat mulai menunjukkan gejala pemulihan sejak kuartal III, Pemerintah AS mempertimbangkan realisasi pengurangan stimulus yang akan dimulai tahun 2014.

Kondisi perekonomian global tersebut mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2013, yang hanya tumbuh 5,78% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 6,23%. Penurunan pertumbuhan ekonomi 2013 disebabkan oleh menurunnya kinerja ekspor non migas karena lemahnya permintaan berbagai komoditas primer andalan ekspor Indonesia seperti CPO, Batubara dan mineral tambang lainnya. Kondisi ini membuat neraca perdagangan tertekan. Realisasi subsidi BBM yang terus membesar juga akhirnya berkontribusi pada semakin besarnya angka defisit pada neraca pembayaran Indonesia dan berakibat pada turunnya nilai tukar rupiah.

Munculnya sentimen negatif akibat rencana tapering off yang hendak dilakukan AS membuat orientasi penempatan dana investor besar bererak kembali ke Amerika Serikat, membuat nilai tukar rupiah semakin tertekan. Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS akhirnya ditutup pada posisi Rp12.170/US$, melemah 20,8% dari posisi tahun 2012.

Upaya Pemerintah mengurangi besaran subsidi melalui penyesuaian harga BBM, mendorong peningkatan harga barang di pasar domestik sehingga berpengaruh pada tingginya angka inflasi pada tahun 2013. Data BI menyebutkan, inflasi pada tahun 2013 meningkat menjadi 8,38% dari 4,30% pada tahun 2012.

Dalam rangka mengendalikan laju inflasi dan menahan laju pelemahan rupiah, selama tahun 2013 Bank Indonesia melakukan 3 kali revisi tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) dari 5,75% di bulan Januari 2013 hingga akhirnya menjadi sebesar 7,50% di akhir tahun 2013.

Naiknya laju inflasi yang membuat harga barang-barang konsumsi meningkat dan penyesuaian suku bunga rujukan, membuat pengeluaran rumah tangga terpengaruh. Belanja barang-barang konsumsi di luar kebutuhan pokok berkurang. Permintaan barang elektronik, perbaikan rumah tinggal, maupun investasi di bidang perumahan yang umumnya menggunakan dukungan perbankan juga berkurang, akibat semakin tingginya suku bunga pinjaman di samping adanya ketentuan besaran uang muka yang lebih tinggi.

Di sisi lain, perubahan suku bunga rujukan membuat tingkat bunga deposito dan tabungan di sistem perbankan meningkat, menarik lebih banyak kelebihan dana rumah tangga. Akibatnya, agregat permintaan barang-barang non konsumsi tertekan dan pada gilirannya membuat penjualan produk-produk non konsumsi turut tertekan. Faktor-faktor tersebut di atas memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap turunnya daya beli masyarakat.

Properti sebagai salah satu tulang punggung penyerapan konsumsi semen, turut mengalami perlambatan, terlebih akibat kebijakan Bank Indonesia pada semester II tahun 2013 yang menaikkan uang muka pembelian rumah (loan to value) dan aturan persyaratan kepemilikan rumah melalui kredit kepemilikan rumah (KPR). Sementara itu sektor konstruksi juga mengalami perlambatan akibat bahan baku konstruksi yang sebagian masih impor dan mengalami kenaikan harga akibat melemahnya nilai tukar Rupiah.

Berdasarkan kondisi di atas, konsumsi semen nasional sepanjang tahun 2013 tercatat sebesar 58,01 juta ton atau hanya tumbuh sebesar 5,5% dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 14,7%, atau 54,96 juta ton.

Kinerja Perusahaan Yang Membanggakan

Pada tahun 2013, Perseroan menyelesaikan beberapa proyek strategis antara lain dengan memaksimalkan produksi pabrik Tonasa V yang memasuki commercial production period sejak Februari 2013, proyek pembangunan 1 unit Vertical Cement Mill di Pabrik Tuban, serta optimalisasi sinergi grup, sehingga Perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan penjualan domestik sebesar 13,2% atau sebesar 25,78 juta ton. Hal ini membuat pangsa pasar Perseroan meningkat menjadi 43,9% dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 40,9%.

Secara total, volume penjualan Perseroan mencapai 27,82 juta ton atau tumbuh sebesar 23,33% dibandingkan dengan tahun 2012 sebesar 22,55 juta ton. Pencapaian tersebut termasuk kontribusi volume penjualan Thang Long Cement Vietnam (“TLCC”).

Peningkatan volume penjualan tersebut antara lain didukung dengan penerapan strategi “Move Closer to the Customer” secara konsisten melalui pembangunan fasilitas distribusi di berbagai lokasi strategis. Fasilitas distribusi yang baru dan telah beroperasi penuh sepanjang tahun 2013 adalah Packing Plant di Sorong dan Banyuwangi. Di akhir tahun 2013, Perseroan juga berhasil menyelesaikan pembangunan Packing Plant Banjarmasin, sehingga total Packing Plant Perseroan menjadi 22 unit.

Dengan peningkatan volume penjualan tersebut di atas, yang disertai penerapan strategi Revenue Management, Perseroan mampu meningkatkan hasil penjualan Perseroan pada tahun 2013 menjadi Rp24,5 triliun dibanding tahun 2012 sebesar Rp19,6 triliun atau tumbuh sebesar 25%. Strategi Revenue Management merupakan upaya mendapatkan optimize revenue dengan fokus di daerah pemasaran utama dan pengembangan pasar potensial, serta peningkatan sinergi antar anggota grup.

Upaya Perseroan dalam meningkatkan hasil penjualan telah membuahkan hasil yang cukup signifikan tetapi disisi lain sepanjang tahun 2013 terjadi tekanan terhadap biaya pokok yang terutama disebabkan oleh kenaikan tarif dasar listrik (TDL), pembatasan penggunaan BBM subsidi yang meningkatkan biaya transportasi, kenaikan upah minimum regional (UMR), serta pelemahan nilai tukar rupiah yang antara lain menyebabkan kenaikan biaya operasional. Menyadari situasi tersebut, Perseroan melanjutkan penerapan strategi cost management secara konsisten melalui berbagai langkah sebagai berikut :

  • Mengoptimalkan pengoperasian Waste Heat Recovery Power Generator (WHRPG) di PT Semen Padang.
  • Melanjutkan konversi konsumsi batubara ke kalori yang lebih rendah di Pabrik Indarung dengan selesainya pembangunan Coal Mill baru.
  • Mengintensifkan pemanfaatan bahan bakar alternatif, meliputi sekam padi, serabut kelapa, bonggol jagung, tobacco waste, oil sludge dan limbah sepatu.
  • Mengoptimalkan penggunaan bahan baku alternatif yang merupakan limbah proses produksi pada industri lain, meliputi fly ash, valley ash, bottom ash, gypsum purified, copper slag, clay alumina, dan paper sludge.
  • Memperkuat Sinergi diberbagai aktivitas yang meliputi produksi, pengadaan, distribusi dan pemasaran.
  • Mendorong terus untuk terus mengimplementasikan inovasi yang telah dihasilkan pada ajang Semen Indonesia Award on Innovation.
  • Menyelesaikan pembangunan PLTU di PT Semen Tonasa dengan kapasitas 2x35 MW.

Kemampuan Perseroan menerapkan strategi revenue dan cost management berdampak pada kinerja utama, yang antara lain peningkatan EBITDA dan laba bersih. Hal tersebut juga tidak terlepas dari kontribusi tim Post Merger Integration (PMI) dalam mengendalikan operasi TLCC di tahun pertama. Secara ringkas, kinerja utama Perseroan sepanjang tahun 2013 tercermin pada tabel kinerja utama berikut:

Uraian 2013 2012 Prosentase
Volume Produksi Semen (juta ton) 26,9 22,8 11,87%
Volume Penjualan (juta ton) 27,8

22,6

23,33%
Pendapatan (Rp miliar) 24.501 19.598 25,02%
Laba Usaha(Rp miliar) 7.063 6.182 14,26%
EBITDA (Rp miliar) 8.099,04 6.860,58 18,07%
Laba Bersih (Rp miliar) 5.370 4.847 10,79%

Pencapaian kinerja utama di atas membuktikan kekuatan fundamental Perseroan. Walaupun tekanan kondisi makro domestik dan global mempengaruhi pergerakan harga rata-rata saham industri semen pada akhir 2013 sehingga mengalami penurunan sebesar 24,9% (tidak termasuk emiten industri semen yang baru tercatat di bursa sejak pertengahan tahun 2013) dibandingkan harga pada akhir 2012, saham SMGR pada akhir 2013 ditutup pada harga Rp14.150 atau hanya mengalami penurunanan sebesar 10.7% dibandingkan pada akhir tahun sebelumnya yang ditutup pada harga  Rp 15.850.

Keberhasilan Post Merger Integration di Thang Long Cement Vietnam

Sejak diakuisisi pada akhir Desember 2012, Perseroan menugaskan tim Post Merger Integration (PMI) yang beranggotakan para ahli Perseroan sesuai bidangnya masing-masing antara lain: bidang produksi termasuk engineering dan mining, pemasaran, procurement, keuangan, SDM, dan Information Communication and Technology (ICT). Tim PMI yang telah bekerja secara efektif sejak awal tahun 2013 berhasil melakukan perbaikan proses bisnis yang meliputi produksi, pemasaran, distribusi, perencanaan strategis dan pengadaan, teknologi informasi, keuangan, dan human capital.

Melalui RUPS TLCC tanggal 2 April 2013, ditetapkan 5 dari 7 anggota Dewan Direksi TLCC berasal dari tim PMI, sehingga mampu mempercepat proses pengendalian operasi Perusahaan secara efisien dan mencapai target kinerja yang ditetapkan, meskipun mengalami kendala budaya dan bahasa.

Integrasi sistem SAP yang go live pada Juli 2013 turut memberikan kontribusi bagi pengelolaan TLCC yang lebih baik dan terintegrasi dengan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Perbaikan kinerja TLCC antara lain ditandai dengan meningkatnya EBITDA margin dari 13% di tahun 2012 menjadi 17% di tahun 2013. Kemudian mampu menurunkan beban bunga dari sebelumnya 481 miliar VND di tahun 2012 menjadi 289 miliar VND di tahun 2013. Kemampuan menurunkan biaya bunga dan kinerja yang terus meningkat mendorong tumbuhnya laba usaha dari 96 miliar VND di tahun 2012 menjadi 104,6 miliar VND di tahun 2013.

Manajemen Perseroan memberikan apresiasi dan penghargaan atas pencapaian kinerja Tim PMI yang luar biasa, yang memberikan kebanggaan sekaligus meneguhkan keyakinan Perseroan untuk tetap melanjutkan strategi ekspansi regional lainnya.

Inovasi Tiada Henti

Inovasi yang telah menjadi budaya kerja di Perseroan merupakan salah satu modal intelektual yang berharga untuk meningkatkan daya saing untuk terus tumbuh berkelanjutan sesuai dengan harapan para pemangku kepentingan. Sistem Manajemen Inovasi Semen Indonesia terus dilakukan perbaikan agar inovasi yang lahir setiap saat dapat dimanfaatkan secara optimal dan Perseroan terus mendorong kepada semua karyawan untuk menggali ide-ide kreatif yang sejalan dengan strategi bisnis Perseroan. Untuk kelima kalinya, pada tahun 2013 Perseroan menyelenggarakan Semen Indonesia Award on Innovation (SMI-AI) dengan berbagai improvement untuk mencapai hasil yang terbaik.

Pada tahun 2013 terdaftar 221 proposal inovasi dengan potensi penghematan sebesar Rp695 miliar dan sekitar 40% dari ide-ide inovasi tersebut sudah berhasil diimplementasikan. Budaya inovasi ini telah dimulai sejak tahun 2009, dan hingga saat ini teridentifikasi menghasilkan potensi penghematan sebesar Rp2,57 triliun yang sebagian telah diterapkan dan turut memberikan kontribusi menurunkan biaya operasional sebagai bagian strategi cost management yang konsisten dilaksanakan oleh Perseroan. Untuk memastikan budaya inovasi dapat terus berjalan, Perseroan telah membentuk Dewan Inovasi Semen Indonesia sebagai satu kesatuan sistem manajemen Perseroan dalam mengembangkan budaya inovasi.

Konsistensi Perseroan dalam melaksanakan inovasi mendapatkan penghargaan Rintisan Teknologi yang ketiga kalinya, serta empat penghargaan pada ajang BUMN Innovation Award 2013 untuk kategori The Best Corporate Innovation Culture & Management, The Best Innovation of Green Product, The Best Product Innovation of Energy & Mining Sector, dan The Best Technology Innovation Energy & Mining Sector. Untuk tingkat ASEAN Perseroan mendapatkan dua penghargaan di bidang energi yaitu ASEAN Energy Management Awards dan ASEAN Coal Awards.

Center of Engineering Menuju World Class Engineering Company

Center of Engineering (CoE) merupakan rumah besar bagi para engineer Perseroan untuk mewujudkan world class engineering company. Ke depan Perseroan tidak lagi hanya menjadi produsen semen, namun juga menghasilkan engineers hebat yang melahirkan inovasi-inovasi di industri persemenan.

Kehadiran CoE akan menyatukan unit engineering yang sebelumnya tersebar di masing-masing operating company (opco). Penyatuan ini akan menghasilkan produktivitas dan efisiensi internal karena masing-masing unit tidak lagi memikirkan pengembangan teknologi persemenan secara sendiri-sendiri. Inilah yang disebut business process realignment.  

Inti dari pembentukan CoE ini adalah mengelola pengetahuan atau knowledge management, sehingga setelah melakukan riset engineering, direalisasikan, kemudian didokumentasikan dengan baik agar suatu saat bisa dimanfaatkan sekaligus dikembangkan. Dari CoE diharapkan dapat lahir teknologi-teknologi baru serta kemampuan engineering yang kemudian dipatenkan sebagai kekayaan intelektual.

Pengalaman dalam pengelolaan pembangunan pabrik secara swakelola mulai dari tahap perencanaan, pemantauan, pelaksanaan, dan pengendalian, merupakan sumber kekuatan CoE yang akan menjadi unit pengembangan bisnis yang bersifat eksternal.

Peningkatan Kualitas Penerapan Best Practices Tata Kelola Perusahaan

Perseroan menunjukkan komitmen tinggi untuk meningkatkan kualitas penerapan praktik terbaik GCG dengan melengkapi seluruh soft structure maupun infrastruktur bagi pelaksanaan tata kelola yang berkualitas. Perseroan juga telah mempersiapkan penyempurnaan berbagai aturan tata laksana untuk disesuaikan dengan perubahan struktur korporasi sebagai strategic holding. Untuk meningkatkan kualitas penerapan praktik GCG, pada tahun 2013 telah dilaksanakan hal-hal sebagai berikut:

• Meningkatkan pelaksanaan sistem pelaporan pelanggaran (Whistle Blowing Policy-“WBP”) dalam rangka meningkatkan kualitas transparansi, akuntabilitas dan fairness.

• Mengadakan MOU dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk pengendalian gratifikasi dalam rangka menekan peluang korupsi, yang meliputi antara lain kegiatan penyusunan aturan, Training of Trainer (ToT), sosialisasi/diseminasi, pemrosesan pelaporan penerimaan hadiah/fasilitas, serta monitoring dan evaluasi.

• Menunjuk BPKP untuk melakukan assessment tingkat pencapaian penerapan GCG dengan menggunakan parameter terkini, sebagai upaya untuk melakukan evaluasi dan peningkatan praktik tata kelola di masa mendatang.

Konsistensi penerapan di bidang GCG berbuah beberapa penghargaan, antara lain Annual IID Corporate Governance Award dalam kategori Best Non Financial Sector, serta predikat “Emiten Terbaik dalam Penerapan GCG” berdasarkan penilaian dari Indonesian Institute for Corporate Director (IICD).

Bisnis Berkelanjutan dengan Menerapkan Triple Bottom Line

Perseroan mengambil prakarsa secara sadar dan terencana dengan memadukan lingkungan hidup dalam proses bisnis untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan masa depan menjadi lebih baik.

Selain mengemban tugas yang harus menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham, Perseroan juga sekaligus sebagai motor penggerak sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Oleh karena itu dalam setiap aktivitas operasi telah mendorong Perseroan untuk terus memastikan keseimbangan keberlanjutan dari aspek ekonomi (profit), sosial (people), dan lingkungan (planet). Perseroan sadar bahwa keberlanjutan operasional yang disertai dengan terjaganya kelestarian alam dan meningkatnya kesejahteraan sosial akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam menjalankan kegiatan operasi. Hal ini merupakan bentuk implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) yang akan menjadi kunci bagi keberlanjutan Perseroan di masa depan.

Untuk menunjukkan komitmen yang kuat dalam melaksanakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), pada tahun ini telah disusun blueprint CSR yang mencerminkan suatu konsep TJSL yang tidak hanya merupakan kewajiban bagi perusahaan yang operasinya berkaitan dengan sumber daya alam, namun lebih dari itu CSR diyakini merupakan medium bagi peningkatan reputasi perusahaan serta terbentuknya sustainability perusahaan.

Sesuai blueprint CSR yang telah disusun, program-program yang diimplementasikan dikelompokkan dalam empat pilar, yaitu:

  • “SI Cerdas” yang fokus pada peningkatan kompetensi melalui program pendidikan.
  • “SI Prima” yang bersinergi dengan program-program Unit Pemasaran dan Litbang.
  • “SI Lestari” yang fokus pada program-program lingkungan.
  • “SI Peduli” yang merupakan rumah yang berisi program-program sosial ekonomi.

Prospek dan Strategi di Tahun 2014

Perseroan mencermati bahwa kondisi perekonomian saat ini dan ke depan masih diwarnai ketidakpastian yang masih tinggi dan permasalahan domestik yang bersifat struktural. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2014 akan berada pada kisaran 5,5% - 5,9%, yang dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi dunia yang belum kuat serta dampak dari pengetatan ekspor komoditas, khususnya hasil tambang. Situasi makro ekonomi yang terjadi di tahun 2013, antara lain tekanan pada inflasi dan nilai tukar rupiah, diperkirakan masih akan berlanjut di tahun 2014.

Dinamika global dan domestik sebagaimana tersebut di atas, akan mempengaruhi kondisi industri persemenan nasional. Pertumbuhan konsumsi semen nasional di tahun 2014 diperkirakan hanya akan tumbuh pada kisaran 5,0% - 6,0%.  Sementara itu tingkat persaingan menjadi semakin ketat dengan penambahan kapasitas dari existing players serta mulai beroperasinya sebagian fasilitas produksi dari new entrants yang berasal dari domestik maupun global, dan juga merk-merk baru yang semakin gencar memasuki pasar domestik.

Menyikapi tantangan tersebut, Perseroan tetap optimis untuk terus tumbuh di atas pertumbuhan industri dengan memanfaatkan keunggulan daya saing yang dimiliki Perseroan. Berbagai langkah strategis pada aspek kapasitas produksi masih menjadi salah satu tumpuan untuk memenangkan persaingan di tahun 2014 dan selanjutnya,  antara lain:

  • Penyelesaian proyek pembangunan cement mill di Dumai.
  • Peningkatan kapasitas produksi melalui upgrading di Pabrik Tonasa IV.
  • Proyek pembangunan Pabrik Rembang Jawa Tengah dan Indarung VI Sumatera Barat.
  • Pembangunan grinding plant di Banten dengan memanfaatkan ground blast furnace slag yang dihasilkan oleh PT Krakatau Semen Indonesia (PT KSI). PT KSI merupakan perusahaan patungan yang dibentuk oleh PT Semen Indonesia (Persero) Tbk dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.

Sementara itu untuk meningkatkan jaminan ketersediaan semen di seluruh pasar domestik dan dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada pelanggan (move closer to the customer), Perseroan melanjutkan pembangunan packing plant di lokasi strategis pemasaran di Kendari, Bitung, Mamuju, Balikpapan, Pontianak, dan Lampung.

Dalam bidang energi, peningkatan utilisasi power plant baru dengan kapasitas 2x35 MW di PT Semen Tonasa akan turut memberikan dampak penghematan biaya listrik yang cukup signifikan di tengah ancaman kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Pemanfaatan coal mill baru di PT Semen Padang yang mengkonsumsi batu bara berkalori rendah, akan turut berkontribusi dalam mengendalikan resiko kenaikan biaya energi. Program lain dalam upaya efisiensi biaya energi listrik, Perseroan berencana membangunan WHRPG di pabrik Tuban yang berpotensi membangkitkan listrik sebesar 25 MW, yang sejalan dengan kebijakan Perseroan dalam pengurangan gas rumah kaca. Pembangunan tersebut bekerjasama dengan Pemerintah Jepang, yang merupakan kelanjutan kerjasama sebelumnya yaitu pembangunan WHRPG di pabrik Indarung Padang yang berkapasitas 8,5 MW.

Transformasi korporasi yang dilakukan Perseroan merupakan salah satu jawaban tantangan ke depan karena transformasi tersebut menciptakan peluang bagi Perseroan untuk lebih meningkatkan sinergi grup serta memberdayakan kekuatan-kekuatan seluruh komponen grup.

Restrukturisasi organisasi dan proses bisnis yang telah dilakukan akan menjadikan Perseroan semakin kompetitif dan mendorong ekspansi di pasar regional untuk menciptakan multi market dan sinergi yang lebih luas untuk menjaga daya saing perusahaan guna menciptakan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Manajemen meyakini, dengan sinergi yang semakin kuat dan hasil kinerja yang semakin baik maka kebersamaan seluruh jajaran di bawah naungan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk akan semakin mengkristal dan mampu mewujudkan serta menyatukan seluruh potensi dan kompetensi yang dimiliki, untuk menjadi kekuatan bersama guna meraih kemajuan.

Seperti telah disebutkan di atas bahwa persaingan akan semakin ketat, Perseroan meyakini bahwa inovasi merupakan salah satu pilar penting untuk meningkatkan kinerja perusahaan di tengah kompetisi industri semen yang semakin meningkat. Oleh karena itu, sangat penting menumbuhkan budaya inovasi di lingkungan Perseroan. Untuk memberikan apresiasi kepada para inovator, Perseroan secara konsisten menyelenggarakan Semen Indonesia Award on Innovation dan untuk memastikan ide-ide inovasi terimplementasi, Perseroan juga membentuk Dewan Inovasi.

Untuk memastikan diperolehnya keunggulan bersaing sekaligus memberikan hasil kinerja yang optimal, Perseroan konsisten menerapkan strategi inisiatif yang bersifat kritikal, yaitu: pertumbuhan kapasitas, pengamanan energi, penguatan citra korporasi, pemenuhan kebutuhan konsumen, penguatan faktor penunjang dan pengendalian resiko, dengan pola pengelolaan yang berfokus pada revenue management, cost management, capacity management, dan improving competitive advantage. Perseroan meyakini dengan sinergi yang lebih baik dan telah berjalannya fungsi-fungsi strategis akan mampu meningkatkan kinerja yang lebih baik dan berkesinambungan, sehingga memberikan imbal kinerja yang semakin baik kepada pemegang saham dan para pemangku kepentingan.