Pabrik Gresik Mengemban Misi Produksi Sekaligus Edukasi

Mengemban Misi Produksi Sekaligus Edukasi Menjadi saksi akan kehebatan Semen Indonesia hingga saat ini, Pabrik Gresik masih mampu menghela beban perusahaan. Tak hanya berproduksi, Pabrik Gresik juga menjadi sarana pembelajaran UISI dan AkSI. Maret 2017 lalu, menjadi bulan yang membahagiakan Mohammad Ircham. Dia mendapat promosi perusahaan diangkat menjadi Kepala Biro Pabrik Gresik. Sebelumnya, jebolan Politeknik Undip Semarang ini bertugas sebagai Kepala Seksi Finishmill Tuban 3 & 4. “Bertugas dimana saja. Semua miliki tantangan yang berbeda,” terang Ircham. Di Pabrik Gresik, sudah pasti tantangan dan wewenang yang dipikul lebih berat. Di sini, Ircham dan tim miliki tugas utama, memastikan ketersediaan semen di Pabrik Gresik untuk kebutuhan pelanggan. Apapun kondisinya. Menuntaskan misi ini, Biro Pabrik Gresik ditopang tiga seksi yakni finish mill & packer yang dikepalai Lulus Priono, Seksi Pemeliharaan Mesin dengan Syaiful Arif sebagai Kasie-nya dan Seksi Pemeliharaan Gresik yang dikepalai R. Satrijo Utomo. Ada sebanyak 43 karyawan induk yang memperkuat biro ini dengan 100 tenaga outsourcing. “Kami terus bersinergi di lapangan untuk memastikan tak ada ganguan pasokan disebabkan masalah yang timbul di arena finishmill maupun packer,” terangnya. Di Pabrik Gresik ada empat line finishmill. Tiga dipakai untuk produksi semen jenis PPC dan satu line untuk semen putih. Dari tiga line itu, kapasitas semen yang dimuntahkan tiap hari sebanyak 4.000 ton. Sebelumnya, kapasitas tak sebanyak ini. Pasalnya, finishmill B berhenti operasi sejak 2001 lalu disebabkan kerusakan berat di area gearbox. Hanya saja, berkat tangan terampil dan inovatif biro ini, finishmill B bisa beroperasi sejak 2014 lalu. “Spare partnya sudah tak ada karena mesin ini buatan Amerika (Serikat). Tapi tak kurang akal, teman-teman kemudian mengotak-atik sehingga mill B bisa kembali beroperasi,” terang Syaiful Arif, Kasie Pemeliharaan Mesin Pabrik Gresik. Uniknya, cara yang dilakukan agak di luar pakem. Jika mill A dan C putarannya bergerak sesuai arah jam, mill B hasil otak-atik ini malah kebalikannya. “Jadi, nggak bisa pakai arah normal, ya dibalik saja. Yang terpenting, mesin bisa kembali beroperasi,” bebernya. Untuk mill D diplot untuk produksi semen putih. Ini merupakan varian baru yang diluncurkan Semen Gresik beberapa waktu lalu. menariknya, aku Ircham, kru Pabrik Gresik sama sekali tidak miliki pengalaman produksi semen jenis ini. Kendati begitu, ini tak menjadi halangan untuk menciptakan produksi berkualitas tinggi. “Kalau di sini, nggak ada yang namanya nggak bisa. Semua bisa diselesaian dan dipelajari selagi ada kemauan,” tegas Ircham yang diamini Syaiful Arif. Budaya kreatif dan inovasi memang terus ditumbuhkan di lingkungan kerja. Apalagi, mesin-mesin yang dioperasikan di Pabrik Gresik tergolong -meminjam istilah sepakbola old crack-. Mesin packer misalnya. Sudah beroperasi sejak tahun 1957, kala Pabrik Gresik diresmikan operasinya oleh presiden pertama RI, Ir Soekarno. Merawat dan mengoperasikan mesin tua, tentu bukan persoalan mudah. Kehati-hatian saja tidak cukup. Ada kalanya, mesin benar-benar mogok dan berhenti beroperasi (shutdown time). Kalau sudah seperti ini, kerugian berjalan ibarat argo taksi. “Itu pantangan yang harus kita hindari dan jangan sampai terjadi. Apapun kondisinya, mesin harus jalan. Kalaupun sampai muncul kerusakan nggak boleh lama. Tak ada toleransi,” ungkap Ircham. Repotnya, keinginan untuk secepat mungkin lakukan perbaikan juga bukan perkara sepele. Masih ada ganjalan lain yakni ketersediaa sparepart. Untuk satu ini, bukan soal gampang. Kadang kala, pabrik yang memproduksi sudah tutup. Kalaupun masih beroperasi, item peralatan yang dibutuhkan sudah tak diproduksi lagi. Misalnya, seperti gearbox di mill B. “Kalau sudah begini, daya kreatifitas yang dibutuhkan. Entah bagaimana caranya, pokonya mesin harus bisa kembali beroperasi,” tambah Syaiful. Tak hanya di Packer, keempat mill yang ada di Pabrik juga sudah uzur. Semuanya produksi tahun 1978. Kendati begitu, untuk urusan produksi, mesin-mesin ini masih cukup oke. Tetap mampu dipacu menghasilkan semen 4.000 ton per hari. Salah satu kunci yang terus digiatkan di biro ini adalah terus mempertajam daya inspeksi. Check rutin dilakukan untuk memastikan semua peralatan tak sampai ada kendala. Kalaupun ada gangguan, dalam skala minor sudah bisa dideteksi dan diatasi. Sehingga, secara umum, kinerja mesin masih bisa cukup diandalkan. “Seperti kata pepatah, memcegah lebih baik mengobati. Itu yang kami lakukan untuk memastikan semua peralatan produksi senantiasa dalam kondisi prima dan siap dipacu,” ujar Ircham sembari memastikan hal yang sama juga berlakudi Seksi Pemeliharaan Listrik. “Kondisi instalasi listrik di sini juga kurang lebih sama. Sudah berumur tetapi tetap harus mampu support semua peralatan produksi dengan optimal,” tegasnya. Selain sebagai sarana produksi, Pabrik Gresik juga miliki penting lain yakni media pembelajaran mahasiswa UISI dan AKSI. Secara bergantian, para civitas kampus ini datang dan belajar langsung di lapangan. Ibaratnya, Pabrik Gresik ini menjadi buku besar terbuka yang bisa diambil ilmunya oleh siapa saja. (ram/fir)