Meneladani Kerendahan Hati Pandawa

Wujud pelestarian budaya sekaligus untuk memperingati HUT Semen Indonesia Pabrik Gresik ke-60 dan HUT Kemerdekaan RI ke-72, PT Semen Indonesia (Persero)Tbk, kembali menggelar pagelaran wayang kulit, Jumat (29/9), di Halaman Wisma Achmad Yani, Gresik. Dalam pagelaran kali ini, menghadirkan dalang kondang Ki Tantut Sutanto untuk memainkan lakon Yudhistiro Mukso. Pementasan wayang kulit ini dimulai dengan penyerahan tokoh wayang Yudhistiro oleh Kepala Biro Corporate Event, Edy Saraya kepada dalang Ki Tantut Sutanto. Pagelaran wayang ini, menurut Edy Saraya merupakan wujud komitmen dan konsistensi perusahaan untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat khususnya dalam hal pelestarian budaya. “Ini adalah wujud harmonisasi antara perusahaan dengan masyarakat. Semoga dapat memberikan hal positif dan memperkuat sinergi dengan masyarakat untuk kelangsungan dan kelancaran perusahaan,” tuturnya. Terkait lakon Yudhistiro Mukso yang dimainkan dalam pagelaran wayang tersebut, Edy berharap agar dapat meneladani sifat rendah hati dan penebar hikmah dari para Pandawa. “Mari kita teladani sifat rendah hati dari para Pandawa untuk membangun sinergi perusahaan dengan masyarakat sehingga dapat mewujudkan kinerja perusahaan yang baik,” ajaknya. Lakon Yudhistiro Mukso mengisahkan keputusan Yudhistira yang telah bosan dengan urusan duniawi untuk meletakkan tahtannya dan pergi bertapa ke puncak Himalaya. Tahta tersebut diserahkan kepada satu-satunya pewaris yang masih tersisa, cucu Arjuna yaitu Parikesit. Keputusan untuk bertapa dan meninggalkan urusan duniawi ini diikuti oleh keempat adik Yudhistira dan istrinya. Ditengah perjalanan, seekor anjing kurus mengikuti Yudhistira kemanapun dia pergi. Dalam perjalanan menuju puncak Himalaya tersebut, Drupadi (istri Yudhistira) jatuh tersungkur dan meninggal karena kehabisan tenaga. Setelah meninggalkan jasad istrinya dan melanjutkan perjalanan, giliran Sadewa sang adik yang jatuh dan meninggal karena merasa paling pandai diantara mereka. Setelah itu Nakula turut meninggal karena merasa paling cakap dan tampan. Kemudian Arjuna meninggal karena merasa paling sakti dan terakhir Bhima ikut meninggal karena merasa paling kuat. Sementara Yudhistira yang selama ini dianggap lemah dan bodoh berhasil mencapai puncak bersama anjing kurus yang selalu mengikutinya. Seketika langit terbelah dan dewa indra turun dari langit mengajak Yudhistira menuju surga. Disana Yudhistira melihat para kurawa dan sengkuni tengah berpesta pora, dewa Indra berkata mereka masuk surga karena membela tanah air. Yudhistira kemudian meminta untuk berkumpul bersama istri dan saudaranya yang berada di neraka karena dosa-dosa mereka. Dewa Indra yang melihat ketulusan Yudhistira kemudian memberi hormat kepada Yudhistira dan seketika keadaan berbalik. Para Kurawa dan Sengkuni mendapat siksa di neraka sementara Yudhistira bersama istri dan saudaranya berada di surga. (bwo)