Cigading tiada banding: Lanjutkan Tradisi Pionir Semen Indonesia

Bahasa Indonesia tidak ditemukan For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Gapura – Sebentar lagi, dalam hitungan  pekan,  Proyek Cement  Mill akan diresmikan pengoperasiannya. Saat ini, proyek yang terletak di  Kompleksi Krakatau Steel Industri ini  sudah membukukan progress 98 persen, sejak mulai dikerjakan pada awal 2016 lalu. Bahkan, sejak Februari lalu, cement mill dengan kapasitas  250 ton/jam ini sudah lalukan trial dengan menggunakan material klinker  yang didatangkan dari Pabrik Tuban. “Hasilnya cukup bagus. Tinggal ada beberapa bagian kecil yang segera disempurnakan. Dan, insya allah sudah siap beroperasi. Tinggal nunggu tanggalnya saja,” tutur Ahmed Vaival,  GM Project Management Semen Indonesia yang salah satunya membawahi Proyek Cement Mill Cigading ini. “Januari lalu, kami telah menuntaskan commissioning dan uji coba peralatan kosongan. Februari kita tingkatkan dengan material,” tambahnya.

Spesifikasi teknis,   seperti halnya proyek-proyek di lingkungan Semen Indonesia Group lainnya, Cigading memakai Vertical Mill.  Selain lebih efisiensi dan kualitas yang lebih baik (dibanding horizontal mill),   alat ini juga lebih hemat energy.  Power consumption-nya lebih rendah dibanding yang horizontal.  Sebagai perbandingan,  dengan Vertical Mill, terang Ahmed Vaival, energi listrik yang dibutuhkan sekitar 25-39 KWh/ton. Untuk horizontal mill konsumsi listriknya diatas 30 KWh/ton. “Padahal listrik selama ini menjadi penyumbang terbesar dalam proses produksi,” ujarnya.

Cement Mill Cigading dilengkapi dengan  2  silo dengan kapasitas 10 ribu dan 20 ribu ton. Ke depan, Proyek Cigading ini juga  akan dilengkapi dengan pelabuhan khusus yang bisa disinggahi kapal dengan bobot  40 dwt atau mampu mengangkut 40 ribu ton.  Pelabuhan ini nantinya juga akan dilengkapi dengan  Gantry Crane untuk proses loading  dengan kapasitas 1000 ton/jam.  Dengan  begitu, proses bongkar muat lebih cepat dan terukur yang  selanjutnya akan dibawa ke Silo  lewat belt conveyor. “Setelah cement mill Cigading ini jalan kita akan bergerak ke sana,” jelas Vaival.

GM Project Management Semen Indonesia Achmed Vaival Istiadi

Lalu dimana letak pionirnya proyek ini? Perlu dicatat, Proyek Cigading ini didesaian untuk memproduksi slag cement. Yakni semen yang diproduksi dengan bahan baku slag yakni  limbah biji baja dari  PT Krakatau Steel. Slag Cement  ini, bukan hanya pertama di lingkungan Semen  Indonesia Group tetapi juga  di Indonesia. “Sampai sekarang di Indionesia belum ada semen jenis ini. Padahal, di luar negeri sudah banyak dijumpai produk slag cement ini. Karena itu, peluang ini kita ambil lewat Cigading,” ungkapnya.

Bahan baku slag, nantinya akan dipasok dari PT Krakatau Semen Indonesia. Ini adalah perusahaan Joint Ventura yang dibangun dua BUMN, Semen Indonesia dan Krakatau Steel.  KSI nanti, akan mendapat slag dari Krakatau Steel yang selanjutnya akan diproses agar bisa menjadi bahan baku  semen. Karenanya, letak proyek Cigading dengan KSI ini berhimpitan. Dari 11 hektar lahan yang tersedia, 7 hektar untuk Cemen Mill Cigading dan sisanya dibangun KSI.  Sayangnya, sampai saat ini KSI masih membukukan progress sekitar 30 persen. “Tetapai saya  sudah bicara dengan Pak Bambang Tridoso (karyawan semen yang jadi Dirut KSI, red) dijanjikan Juli nanti sudah beroperasi.  Semoga saja terrealisasi sehingga  kita bisa segera memproduksi slag cement,” bebernya.

Untuk sementara, sambil menunggu pasokan slag, Proyek Cigading akan dipakai memproduksi semen jening OPC dan PPC.  Satu silo dengan kapasitas 10 ribu ton untuk OPC dan Silo dua dengan kapasitas 20 ribu  ton untuk PPC dan Slag.  Teknisnya, nanti jika pesanan PPC lebih banyak maka Silo dua dipakai untuk produksi PPC. Tetapi bila kosong maka jeni slag  cement yang akan diproduksi. “Operasionalnya nanti kita lihat permintaan pasar seperti apa. Silo dua kita desain untuk itu,” ungkapnya.
Menggoyang Jakarta dari Tiga Arah

Jawa memang masih menjadi pasar primadona industri semen nasional. Jika dikerucutkan lagi,  pasar DKI Jakarta dan sekitar menjadi penyerap semen terbesar dibanding wilayah lain di Indonesia.  Ini bisa dimaklumi karena banyak proyek infrastruktur yang digerakkan swasta maupun pemerintah di kawasan DKI Jakarta  dan sekitarnya.

Kehadirann  Cement Mill Cigading nanti akan makin memperkuat skuad Semen Indonesia Group untuk menggoyang pasar ibukota yang saat ini sudah diramaikan 14 merek semen.  Sebelum ini,  Semen Indonesia menggelontor pasokan DKI Jakarta dan sekitarnya dari Packing Plang Ciwandan dan Tanjung  Priok milik Semen Padang. Masing-masing memproduksi 600 ribu ton/tahun.

Nah, dengan hadiranya Cigading, jumlah volume ke pasar DKI bakal bertambah. Tahap awal, Cigading akan memproduksi 600 ribu ton dari 1,5 juta ton desain terpasang.  Ibarat perang, tambahan amunisi ini akan melegakan. Ketersediaan semen lebih terjamin dan mampu memangkas ongkos distribusi semen yang selama ini didatangkan drai Pabrik Tuban atau Padang.

Satu yang menjadi titik lemah Proyek Cigading ini adalah  pasokan listrik. Untuk yang satu ini, Semen Indonesia tidak bisa leluasa memainkan. Pasalnya, listrik  dipasok salah satu anak usaha Krakatau Steel. Ini sebagai konsekuensi yang harus dijalankan karena  keberadaan  cement mill yang berada d area industri Krakatau Steel. “Air dan Listrik kita sudah teken kontrak  untuk ambil dari mereka. Nggak boleh ke yang lain,” ujarnya.

Foto Udara Proyek Cement Mill di Cigading Banten

Proyek Cigading   mendapat pasokan listrik sebesar 13 megawatt  dengan konsumsi 11  megawatt.  Harga  jual listrik yang dipatok sebesar Rp 1.550 /KWh. Bandingkan dengan harga jual listrik PLN yang sebesar Rp 1.000/KWh. “Nggak  ada pilihan. Kita harus sepekati  isi kerja sama sebelum ini,” jelasnya.

Beban ini membuat Break Event Point (BEP) menjadi agak tersendat. Proyek yang menghabiskan dana sebesar 620 miliar (termasuk tanah)  baru diprediksi BEP pada lima tahun ke depan setelah operasi. (ram/znl/fir)