Buka Bersama, Hendi Prio Ajak Karyawan SMI Group Berhijrah

Kegiatan buka bersama di Auditorium Pabrik Tuban, Jumat (25/5), benar-benar terasa istimewa. Aktivitas di bulan Ramadhan itu menjadi momen pertama berkumpulnya jajaran komisaris Semen Indonesia, direksi SMI dan Semen Gresik, serta ratusan karyawan dalam suasana akrab.

Banyak pesan penting yang disampaikan Dirut SMI Hendi Prio Santoso pada kesempatan itu. Salah satunya, mantan orang nomor satu di Perusahaan Gas Negara (PGN) itu mengajak seluruh karyawan SMI Group untuk berhijrah. Hijrah dalam arti mengubah total kebiasaan serta etos kerja yang lama untuk meningkatkan daya saing perusahaan.

“Kita sekarang masih mengandalkan business model dan aktivitas yang sama ketika masih menjadi raja. Bagaimana kita berharap hasil yang berbeda, kalau business model maupun prosesnya lama atau kuno. Tetap tidak bisa ketemu,” papar Hendi yang didampingi seluruh jajaran direksi SMI. Karena itulah, tandas dia, seluruh insan SMI Group wajib berhijrah dari paradigma dan kebiasaan lama ke sesuatu yang berbeda.

Hendi mengingatkan, saat ini industri semen berada dalam situasi ultrakompetisi. Kondisi berat ini bahkan sudah dirasakan SMI sejak akhir 2016, menyusul beroperasinya pabrik-pabrik baru milik kompetitor. Pasar domestik pun mengalami oversupply, yang berimbas terus merosotnya revenue maupun laba perusahaan.

“Harus kita akui, kompetitor datang dengan kekuatan yang kuat, mesin lebih baru, Capex lebih murah, sehingga cost per tonnya juga lebih murah. Ujung-ujungnya harga jual mereka lebih murah. Kan tidak mungkin kita bersaing dengan mereka kalau tidak berubah?” ujarnya. Dalam acara yang juga diikuti pengurus dan anggota Serikat Karyawan Semen Indonesia (SKSI) itu dirut menegaskan, perusahaan harus mengoptimalkan seluruh aset yang ada. Di sisi lain, introspeksi menyeluruh sudah tidak bisa dihindari lagi.

Ibarat orang sakit, tidak bisa lagi melakukan check up hanya setengah-setengah. “Mesti menyeluruh, meskipun kita tahu nanti hasilnya pasti jelek. Nggak apa-apa, yang penting kita tahu penyakitnya yang kronis itu di mana, sehingga bisa diobati dengan segera,” papar Hendi yang disimak seluruh karyawan dengan khidmat.

Bila SMI tidak segera memperbaiki diri untuk menghadapi persaingan yang superketat ini, sambung Hendi, nanti bangkitnya akan tambah susah. Di sisi lain, dirut kelahiran Jakarta, 5 Februari 1967, ini meminta karyawan memberi kesempatan kepada manajemen untuk mengoperasikan perusahaan sembari melakukan perbaikan-perbaikan. Pihaknya tidak menutup diri terhadap usulan dari bawah. “Sampaikan saja ke kita, kalau baik tentu kita pertimbangkan,” cetusnya.(lin/znl/bwo)